BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Tuesday, 16 April 2013


Pertemuan kita, mungkin hanya  hitam malam
Seberapa jauh rasaku, bersama pagi akan meretas. Aku hanya mampir dalam hidupmu, dan semua akan berlalu mengerapu
tinggalkan sedikit coretan kisah ()
***

Bandara Rayyan, 15 February 2013

Inikah pelukan terakhir itu? harusnya perpisahan ini sedari dulu kusadari, saat kau bersembunyi di balik diksimu mengatakan, akan  kepergianmu bersama pagi. Sebisa mungkin kutahan isakan yang terus menggerus batinku, namun seperti kebiasaanmu, kau mulai mengajakku merapalkan mantra ajaibmu " untuk seorang wanita, menagis bukanlah aib. Menangis itu kebutuhan…."  Sambil sesenggukan akupun ikut merapalkan mantra yang telah kuhafal di luar kepala, lalu buliran air mataku kian menderas tak terbendung.
***
Sepulang dari bandara, aku kembali membuka catatan usangku, dibuku inilah narasiku dan narasinya berkisah. Aku terhenti pada goresan rumus phytagoras, dia sengaja merumuskannya untukku.

Ube akamarsse lmuume alnginaahjs lain iknme ginginaa nts dsenermlayun tunuuse kklahte uit rumus phytagoras 12 (dariku ῼ)

Pelan-pelan kueja rumus phytagoras ini, tentu tak lagi sulit bagiku untuk membacanya, aku terlampau biasa dengan rumus-rumusnya, dialek bahasanya yang nyeleneh, juga diksinya yang sarat dengan keambiguan. Malam kian larut, satu persatu burung gagak mulai berdatangan dan  berkoloni di atas balkon, bersama-sama mereka akan menunggu fajar kemerahan, lalu tebang kesana kemari bergantian. Tangisan anjingpun mulai reda, namun ingatanku masih tersangkut narasi masa lalu yang tertulis di buku ini.

Sebenarnya aku tak pernah mengerti, gagak-gagak akan berdatangan dan berkoloni sebelum fajar, begitupan anjing yang menangis di tengah malam,  aku hanya merekam ceritamu, dan akupun menjadi penikmat malam sepertimu, aku percaya dalam setiap malamku, kau akan hadir menjelma menjadi langkah-langkah maling yang mencuri diam waktuku
***

Mulai pagi ini, aku harus terbiasa terbangun tanpa sentuhannya, tanpa segelas coklat hangat seduhannya. Aku akan belajar merangkai senyum setelah tangisanku semalam dan memulai pagiku dengan menikmati efekthyndal di balik daun jendalaku.

Kali ini aku takkan peduli apa kata orang, aku harus menjadi diriku sendiri seperti pesan dalam rumus phytagorasnya, aku akan menikmati aliran rasaku, aku akan menangis jika ingin menangis tanpa rasa malu meskipun orang-orang di sekelilingku mengolok-ngolokku, kata mereka, aku cewek cengeng yang hanya bisa menderas air mataku. Namun berbeda dengannya, dia akan duduk di sebelahku, mengelus punggungku, menghangatkan dinginnya gemuruh batinku, batinkupun luluh mencair bersama hangat usapannya, dan air mataku bebas mengalir bersamanya.

" untuk seorang wanita, menagis bukanlah aib. Menangis itu kebutuhan…." Belum sempat aku bertanya mengapa, tubuhku menghangat dalam rengkuhannya, samar-samar terdengar "pecayalah padaku.."

Sejak saat itu, kubiarkan rasaku mengalir menggeluti kerisauan yang terus menggerus bahagiaku, dan akhirnya aku mengerti bisikannya tempo hari, yah..dengan menangis, rasa yang menyesakkan dadaku terurai, menjadi senyum ranum pengulas hari-hariku.
***
Dengan menangis, aku merasa memilikinya, aku merasakan kehadirannya, kehangatannya……..dan aku harus memahami aku hanyalah simpanannya
***


Pada malam hitam,
tembok bisu,
lengang jalanan,

Aku titipkan rekaman pertemuan kita
biar  coretan kisah kita  bebas datang pergi
membekas bersama malam - malam
dan pudar bersama pagi ()

 - zee ohm-


gambar: screenshot pribadi